
Penulis Buku: Muhadrin Syamsudin
Buku ini menjelaskan tentang Tradisi Kematian di Lembata NTT dalam perspektif living hadis. Jika dilihat dalam Perspektif living hadis pada dasarnya tidak bertentangan dengan hukum Islam, namun pada faktanya terdapat beberapa perbedaan khusus yaitu pertama pada masalah menunggu hadirnya pihak paman (Ine Ame) terlebih dahulu di rumah duka baru kemudian jenazah bisa dikebumikan, artinya ada perbedaan pemahaman dalam prosesi kematian, kedua yaitu penyegaran penguburan jenazah dengan hadis Nabi SAW. Dalam buku ini dijelaskan bahwa tradisi kematian di Lembata NTT menitik beratkan pada persoalan menunggu hadirnya pihak paman (Ine Ame), namun di sisi lain, terdapat nilai-nilai positif yang terkandung di dalam tradisi kematian tersebut, misalnya para pelayat jenazah senantiasa membawa makanan mentah untuk disedekahkan kepada keluarga jenazah yang mana makanan tersebut akan digunakan untuk kelangsungan acara baca do’a dan selamatan di acara kematian dan juga para pelayat mendoakan keselamatan untuk si mayit. Pelaksanaan upacara dalam tradisi kematian oleh masyarakat Leuwohung Lembata menjadi tempat bertemu, berkomunikasi dan membagi informasi. Pertemuan dan komunikasi antar masyarakat menjadi media untuk membangun kolektivitas dan solidaritas masyarakatnya. Dari proses pelaksanaan tradisi kematian tersebut, terdapat sunnah-sunnah Nabi yang dilaksanakan di dalamnya (living hadis), yaitu penghormatan kepada pihak paman dari keluarga ibu. Tradisi penghormatan terhadap pihak paman atau keluarga ibu sebagaimana hadis Nabi SAW yang diriwayatkan oleh imam Muslim dan penyediaan bahan makanan untuk keluarga duka oleh kerabat dan tamu undangan. Tradisi ini berdasarkan hadis Nabi SAW terkait keluarga Ja’far yang diriwayatkan oleh imam Ibnu Majah.
